Showing posts with label Jan 2007. Show all posts
Showing posts with label Jan 2007. Show all posts

Friday, February 16, 2007

Motivasi Untuk Menulis

Oleh: Drs. Wilson Nadeak

Dorongan itu diperoleh mungkin secara tiba-tiba, mungkin pula secara kebetulan karena terlibat dalam percakapan atau ketika membaca sebuah buku, atau mendengarkan sebuah kabar yang menarik. Ada sesuatu yang mendesak-desak dalam dadanya yang hendak dicetuskan, suatu kobaran yang tidak terbendung. Dan seorang penulis yang sudah"jadi" akan memanfaatkan kesempatan ini untuk melahirkan karyanya. Tidaklah mengherankan apabila ia dapat menuliskan karyanya dalam tempo yang relatif "singkat". Dadanya serasa sesak dan tangannya bergerak dengan lincah di atas mesin ketik. Segalanya terasa berjalan dengan mudah dan lancar, hanya karena adanya suatu motivasi yang kuat di dalam dirinya.

Jika motivasinya bersifat religius, maka "Injil" yang dianggap 'Kabar Baik' itu akan mendesaknya untuk memberitakan-Nya kepada orang lain yang belum pernah mendengar. Ia tidak akan pernah dapat tidur nyenyak sebelum ia mencurahkan kabar baik itu dari dalam hati dan pikirannya. Ia akan menuliskan pesan yang mengetuk hatinya, dalam bentuk artikel. Suatu rasa puas yang luar biasa akan dirasakannya setelah melihat tulisan atau artikel itu muncul dalam majalah. Di sini ada sesuatu yang mendorongnya, dorongan untuk menuliskan kabar Injil, sesuatu berita baik yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain.

Tetapi ada juga orang yang terdorong menulis sebuah artikel karena uang. Pengharapan yang diletakkannya di depan ialah uang, setiap kali ia menyelesaikan bagian demi bagian dari tulisannya, ia mengharapkan tulisannya segera selesai, karena tidak lama lagi ia akan mendapatkan uang sebagai imbalannya. Maka pikirannya dipenuhi dengan uang. Pada umumnya, dorongan seperti ini tidak mendatangkan hasil yang memuaskan. Ia cenderung menulis dengan cepat hanya sekedar untuk memperoleh imbalan.

Berbeda dengan dorongan "Injil" yang dikatakan di atas, yang membuat orang meletakkan pengharapan di depan, kepuasan batin karena orang lain akan memperoleh berita keselamatan. Kita tahu bahwa uang memang penting, tetapi uang bukan tujuan utama. Uang adalah imbalan yang menyusul kemudian. Yang diutamakan ialah penyampaian ide dan sesuatu yang amat berharga bagi sesama.

Wednesday, February 14, 2007

U TANYA? I JAWAB!

( Anda tanya apa saja tentang menulis, kami menjawabnya. )

? Bagaimana memulai menulis - Charles, 36, kontraktor.

! Mulailah menulis.


? Kadang saya banyak ide, kadang ‘blank’ sama sekali. Apa saran anda – Nina, 15, pelajar di Petra.

! Normal. Kalau terus-terusan banyak ide atau ‘blank’, anda mungkin abnormal.


? Pacar saya kolumnis majalah pria, kadang ia membatalkan kencan demi ‘ide mendadak’, apa yang harus saya perbuat – Mei Ling, 24, Shopermania.

! Buat daftar acara darurat untuk mengimbanginya. Dorong dia memanfaaatkan Voice Recorder atau PDA-nya untuk menuliskan ide sambil jalan bareng dengan anda. Bersama dalam satu waktu & tempat, kadang bukan berarti benar-benar “bersama”.


? Apakah saya terlambat untuk menulis, itu cita-cita saya waktu masih anak-anak – Padmosastro, 87, pensiunan ABRI

! Kalau anda tanya-tanya melulu, ya pasti makin terlambat. Sekarang jangan buang waktu lagi

Ziarah Keraguan Seorang Penulis

Oleh: Philip Yancey

"Saya menulis buku untuk diri saya sendiri," kata Philip Yancey dalam suatu wawancara. "Saya menulis buku untuk memecahkan perkara yang mengganggu saya, perkara yang saya tidak tahu jawabannya. Buku saya merupakan proses penjelajahan dan penyelidikan. Karenanya, saya cenderung menggarap berbagai persoalan yang berkaitan dengan iman, perkara yang saya anggap penting, yang membuat saya bertanya-tanya dan yang merisaukan bagi saya."


Dengan pendekatan ini, buku-bukunya berhasil menyentuh dan mengusik banyak pembaca. Ia melontarkan isu-isu yang sensitif dan tak jarang kontroversial seperti penderitaan, kekecewaan terhadap Allah dan homoseksualitas. Ia menyajikannya dengan perincian khas seorang wartawan, diimbuhi dengan ironi dan skeptisme yang jujur. Itulah antara lain yang memikat para pembaca karyanya. Seutas benang merah menonjol yang menautkan tulisan-tulisannya adalah kekecewaan terhadap lembaga gereja. Sikap ini rupanya beranjak dari latar belakang masa lalunya. Philip mengakui dirinya kadang-kadang menjadi orang Kristen yang enggan, "dihantui oleh keraguan dan tengah dalam proses pemulihan dari pengalaman buruk dengan gereja."


Philip Yancey memulai karier menulisnya dengan menjadi staf redaksi Campus Life Magazine pada 1971, dan bekerja di situ selama sepuluh tahun. Kemudian ia berkonsentrasi sebagai penulis lepas di berbagai media selain menulis kolom bulanan dan menjadi Editor at Large di Christianity Today. Ia sudah menulis tak kurang dari enam belas buku, yang terjual sampai 13 juta eksemplar. Delapan judul di antaranya memenangi Gold Medallion Awards dari asosiasi penerbit Kristen AS. Para manajer toko buku Kristen memilih The Jesus I Never Knew sebagai "Book of the Year" pada 1996, dan What's So Amazing About Grace? pada 1998. Musim gugur tahun ini akan terbit buku terbarunya, Prayer: Does It Make Any Difference?


Tentang harapannya ke depan, ia berkata, "Saya ingin memanjat semua gunung di Colorado yang tingginya lebih dari 14.000 kaki. Ada 54 gunung dan saya sudah memanjat 44 di antaranya. Saya ingin menulis memoar yang kepedihan dan sekaligus kengerian bertumbuh sebagai seorang fundamentalis. Saya ingin tetap menikah dengan wanita yang sama... dan saya ingin terus meningkatkan wawasan dan menemukan tantangan." (Arie Saptaji)

Menulis Menyelamatkan Hidup Saya

Oleh: Caryn Mirriam-Golberg, Ph.D.

"Saya berusia 14 sewaktu duduk di tangga beton depan apartemen sahabat karib saya yang segera akan menjadi mantan sahabat saya. Kami baru saja bertengkar hebat. Di rumah, kedua orangtua saya menghadapi perceraian terburuk abad ini, (begitulah pikir saya) telah membuat batas dengan membagi dua rumah kami, dan saya tidak yakin harus berada di sisi mana. Saya pikir, hidup saya hancur, dan saya tidak tahu harus berbuat apa."


"Maka saya pun mulai menulis."


Puisi pertama saya, tidak mengherankan, yaitu tentang bagaimana seseorang dapat berubah menjadi sangat kejam. Begitu pula dengan puisi saya yang kedua dan yang ketiga. Namun, saya mulai merasa ketakutan saya berkurang, tidak terlalu merasa sendiri. Saya menyukai perasaan ini, maka saya pun terus menulis.


Saya percaya, dengan menuangkan pikiran, mencegah saya terlalu banyak berpikir untuk bunuh diri di saat-saat sulit dan sedih. Sebagai seorang remaja, saya bertanya-tanya, apakah saya layak hidup, dan menulis membantu saya memahami luka hati saya.


Menulis membantu saya untuk berkonsentrasi dengan menunjukkan kepada saya mengenai cara melamun yang lebih baik -- dan di atas kertas. Menulis juga membantu saya dalam memahami banyak mata pelajaran di sekolah.


Menulis, ketika itu dan sekarang, membantu saya merasakan- kadang-kadang sakit, sering kebingungan, selalu bimbang, dan sekali- sekali benar-benar gembira.


Selama 25 tahun terakhir, saya terus menulis -- kadang cepat dan tidak rapi, kadang selambat lalulintas yang macet. Kini, saya punya rak-rak yang dipenuhi catatan harian, dan laci-laci yang dipenuhi puisi, esai, cerita, dan surat-surat. Menulis telah menyelamatkan hidup saya.


Menulis membuka hati saya, dan dalam prosesnya, saya mulai menemukan diri saya sendiri. Yang terpenting, menulis membawa saya pulang. Saat mengisi catatan harian, saya merasa hidup ini berarti. Saya merasa menjadi bagian dari halaman-halaman kertas itu dan merasa diterima di sana. Tak seorang pun dapat merebut perasaan ini dari saya.