Friday, February 15, 2008

Banjir Ide

Anda pernah mengalami banjir ide? Kalau kebanjiran mungkin Anda pernah mengalami. (waktu di Indo sering maen air di tengah banjir, apalage maen bola wuah asyiik gitu yach). Nah yang ini kabanjiran ide bukan kebanjiran air atau uang. Saya mengetik tulisan ini saja sampai salah-salah karena pengen cepat-cepat menuntaskan ide yang ada di kepala ini. Karena di saat bersamaan ini pula saya mengetik tulisan laen, karena tidak mau kehilangan ide yang sudah ada dikepala yang bersamaan pula tersebut. Ide yang laen musti saya tunda dulu, semoga saya masih inget. Kalau hilang ide tersebut, yaaahh, sayang sekali kan.

Darimana saja ide-ide itu berbanjir ria ke kepala saya? Waktu membaca buku, baru satu paragraf sudah timbul satu ide. Di laen kesempatan baru membaca satu kalimat, timbul lagi ide laen. Membaca artikel di internet, timbul ide satu lagi. Waktu menonton filem di bioskop, timbul satu lagi. Waktu saat teduh membaca Alkitab, timbul lagi. Wah gawat, saya enggak bisa menghentikan banjir ide ini. Saya harusnya berhenti membaca, atau menonton, atau mendengar, atau membau atau atau yang laennya. Supaya banjir ide agak lebih surut.

Itu pengalaman banjir ide saya. Mungkin Anda pernah mengalami dengan kejadian yang lain. Lalu apa seh ide itu? Menurut kamus umum begini bunyinya, konsep yang yang muncul didalam pikiran sebagai hasil dari pengertian mental (emosi), kepekaan, impresi, opini, pandangan, kepercayaan atau aktifitas. Kalau diteliti lebih lanjut dari segi psikologi bakal lebih ribet.

Tapi setelah berpikir dengan lebih tenang (tadinya kan lagi 'hot') masa kita toh yang menghasilkan ide itu? Memang lingkungan sangat membantu kita mencetuskan ide. Dan paling dasar dari semua itu adalah yang memulai segala sesuatu kan? Tuhan. Dia yang mencipta manusia, dia yang memberi otak untuk berpikir, dia juga yang memberi ide, sumber inspirasi.

Ada yang beri ide, kalau Anda mampet ide ya minta dunk sama yang punya Ide, sumber Ide. Maka engga menyalahi aturan, kalo sebagai penulis (meski belom prof) baru penulis blog, minta ijin, kulo nuwun sama yang punya Ide sebelom Anda memulai menulis.

Ide, inspirasi, ilham; kalau dalam Alkitab yang paling mendekati adalah kata wahyu, visi. Seperti yang ada di: "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum." Amsal 29:18 atau "dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar." Ef.1:17.

Dengan jelas bahwa wahyu adalah pemberian, dibukakan dari Allah kepada manusia. Wahyu, yang kita sebut saja sebagai ide/ ilham/ inspirasi datangnya bukan dari diri kita sendiri. Tapi diberi. Jika pemberian itu telah kita terima, selayaknyalah kita 'mengembalikan' kepadaNya.

Tuesday, February 12, 2008

Ide di Tengah Keramaian

Mungkin Anda pernah membaca, melihat atau membayangkan bagaimana salah satu cara orang mendapatkan ide. (Karena ada penulis yang mendapatkan ide dalam waktu yang tenang, sepi dari pada dalam waktu yang ramai) Dengan menyendiri di suatu tempat yang sepi, jauh dari keramaian. Terus mungkin Anda dapat membayangkan sebuah cerita/ peristiwa di dalam kepala Anda. Mungkin hal itu bisa menjadi ide. Itu mungkin bagi Anda yang menjadi penulis penuh waktu (full time writer) dan Anda mempunyai transportasi untuk mencari tempat sunyi yang sering diimpikan itu.

Tetapi bagaimana dengan para penulis amatir yang masih bukan penulis penuh waktu? Apalagi jika sang penulis sendiri kantongnya pas-pas-an. Kan tidak dapat kesana kemari dengan seenaknya. Juga dengan penulis amatir yang masih mempunyai pekerjaan lainnya, tentu untuk berpergian itu tidak mudah. Apalagi jika tempat tinggal penulis dekat kawasan kumuh yang ramai, bahkan bagi penulis profesional ada pula yang tinggal di pusat kota yang ramai. Mungkin sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk menyendiri. Apalagi jika deadline sudah makin mendekat.

Salah cara yang pernah disebutkan oleh para penulis adalah mensiasati keadaan. Dengan teknologi yang sekarang yang ada dengan mudah untuk mendapatkan iPod atau mp3 player atau bahkan jika kita belum sampai ke taraf itu dapat memakai walkman disc atau walkman lama kita. Pasang kaset atau CD dengan lagu-lagu tenang untuk mendengarkan. Tentu yang perlu diperhatikan jangan sampai terlena atau tertidur. Hal ini akan menggantikan keadaan kita dari pada kita harus mengungsi menyepi ke luar kota atau di pedesaan.

Wednesday, February 6, 2008

Refresh You Outlining

Oleh: Lynn Viehl

Outline mungkin berarti garis besar atau kerangka cerita (dalam kepenulisan?). Outlining bukan menulis sebuah novel; Outlining itu menyiapkan dan mengatur elemen-lemen dari sebuah novel. Anda tidak harus membuat garis besar dalam menulis novel; banyak penulis tidak melakukan hal itu. Jika Anda pengen menjual novel Anda, Anda perlu membuat ringkasan cerita untuk memperlihatkan kepada pembaca dengan contoh beberapa bab. Outlining membuat Anda menulis ringkasan cerita dengan lebih efektif.

Biasanya saya membuat garis besar dari novel saya. Hal itu mungkin akan mempermudah atau sebaliknya mempersulit Anda. Lakukan apa yang terbaik untuk Anda.

Dua dasar untuk membuat kerangka cerita adalah karakter (tokoh) dan plot. Seperti kata benda dan kata kerja dalam membuat suatu kalimat, karakter dan plot adalah dasar untuk membuat sebuah novel. Setting, motivasi, alur waktu, model cerita dan yang lainnya yang ada di pikiran Anda masih tidak diperlukan untuk saat ini. Tetapi fokuskan pikiran Anda pada sebuah tokoh atau sekelompok tokoh yang akan mengisi cerita Anda dan apa yang mereka lakukan.

Latihan membuat tokoh: tulis daftar nama mereka, dan tulis keterangan atau detil yang perlu diceritakan tentang diri mereka, disebelah tiap nama karakter tersebut. Untuk setiap nama tokoh sebutkan kelebihan, kekurangan dan masalah mereka. Jika Anda mengalami kesulitan memutuskan bagaimana sifat dari tokoh Anda, Anda dapat mengambil sebuah kertas kosong untuk menguraikan terlebih dahulu bagaimana sifat setiap tokoh yang Anda mau - sebelum Anda kembali menulis garis besar novel Anda.

Satu anjuran tentang tokoh yang Anda buat: Anda harus lebih tahu tentang mereka dari pada pembaca Anda.

Sesudah menyelesaikan para tokoh yang Anda maui, baca ulang kembali. Ingat bahwa buatlah semenarik tokoh Anda, semakin menarik atau unik tokoh Anda, semakin menarik untuk dibaca. Baik itu tokoh pahlawan Anda atau tokoh antagonisnya. Anda dapat melihat apakah ada sifat-sifat yang berlawanan antara otokoh-tokoh yang Anda buat? Karena hal itu akan ada hubungannya pada waktu Anda menulis novel nantinya.

Plot: Untuk mudahnya, tulis cerita utama novel Anda. Biasa yang saya lakukan adalah menulis 5 kejadian utama dari cerita yang akan saya tulis, lalu dari antara lima kejadian itu Anda dapat memasukan kejadian-kejadian lainnya yang berhubungan satu dengan yang lain. Untuk menulis plot jangan ragu atau takut salah, bahkan sampai tidak masuk akal sekali pun tetap lanjutkan. Jika perlu nanti akan diperbaiki pada belakang hari.

Satu anjuran untuk membuat plot: buatlah sehingga pembaca tidak mudah menebak isi cerita novel Anda (kalau bisa sampai lebih dari separoh isi novel Anda).

Lynn Viehl seorang penulis novel profesional dari Amrik yang telah menelorkan 35 novelnya yang diantaranya menjadi USA Today bestseller. Selain menjadi penulis penuh waktu Lynn juga menjadi pengajar kepenulisan diberbagai seminar dan kelas on-line. Kayaknya setiap penulis profesional mempunyai caranya masing-masing dalam menulis. Cara kepenulisan Lynn cukup mudah diikuti dan sederhana. Semoga bermanfaat.

Sunday, February 3, 2008

Refresh Your Writing Spirit

Bagi kita-kita yang udah bosan menulis alias kehilangan kegairahannya untuk menulis. Jangan patah arang. Coba ambil selembar kertas kosong dan pensil atau pena, corat-coretkan ide-ide Anda pada lembar kertas yang masih mulus kosong itu. Curahkan ide-ide cerita yang ada di kepala Anda. Mungkin yang ada hanya perenungan kalimat dalam benak. Mungkin bisa berbentuk barisan puisi. Kata-kata yang tertinggal dalam otak Anda. Tuliskan semua tanpa rasa malu.

Beri Waktu
Bagi kita yang masih bukan full time penulis tentu kita tidak mempunyai waktu untuk menulis seperti penulis profesional. Tetapi jangan kuatir, buat saja jadwal sendiri, mungkin setiap hari buat 15 menit. Mulai dari oret-oretan tersebut. Mengenai media terserah. Ada yang suka mencorat-coret di kertas kosong. Ada yang suka di depan komputer atau komputer notebooknya, terserah.

Curahkan semua pikiran, kata, cerita, kalimat, mimpi, observasi, impian bahkan sampai masalah Anda. Kalau bisa tuliskan semua sampai tuntas. Jangan sepotong-sepotong. Jadikan hal ini sebagai kebiasaan baik Anda. Lima belas menit saja. Simpan kertas Anda atau save file komputer Anda. Dalam seminggu (lima hari) lakukan terus menerus. Pada akhir pekan, baca hasil coretan Anda selama lima hari tersebut (atau ada yang suka disimpan sampai sebulan, tetapi simpan dengan baik coretan tersebut, dianjurkan tidak terlalu lama menyimpannya) supaya anda masih ingat apa yang Anda coretkan itu, dan Anda dapat melanjutkan atau mengembangkan coretan tersebut.

Bank Ide
Hasil coretan-coretan itu dapat menjadi "bank ide". Ada penulis yang menganjurkan bank ide itu dibukukan atau Anda membeli buku catatan (notebook) kecil yang bisa dibawa kemana-mana bahkan dapat Anda letakkan di sebelah tempat tidur Anda, karena siapa tahu ketika Anda tidur, Anda bermimpi dan terjaga, masih teringat akan mimpi Anda, Anda dapat menuliskan mimpi tersebut di buku catatan Anda.

Buku catatan dapat Anda bawa waktu naik bis, kereta api, pesawat, kedai kopi, pujasera, mungkin mendengar percakapan sepasang kekasih yang sedang pacaran, anak yang menangis karena mau menurut kepada ortunya, pasutri yang sedang cekcok, waktu menunggu tambal ban motor Anda, waktu menikmati semilir angin di atas becak dan masih banyak lagi. Itu adalah waktu-waktu Anda 'menangkap' ide dan depositkan pada bank ide Anda.

Meskipun Anda sudah mendapat ide dari bank ide Anda, Anda harus menetapkan starting point, dari mana cerita Anda dibangun. Untuk memulai hal ini jangan ragu atau takut salah. Tuliskan dari mana Anda akan memulai cerita Anda. Pilih salah satu kalimat, kata, paragraf untuk sebagai titik pemula cerita Anda. Dan lebih bagus lagi jika Anda dapat mengembangkan bank ide Anda tersebut.

Menangkap ide. Karena ide itu sudah ada di sekeliling kita. Bak nyamuk yang berterbangan disekeliling kita, menginginkan darah manis kita, kita tinggal tepuk si nyamuk. Puk! Kena. Rasanya cukup lega. Kurang sudah satu gangguan. Sebaliknya dengan ide. Kena, dapat, juga lega rasanya. Bertambah satu pengembangan cerita kita. Penangkapan ide, cuma dibutuhkan konsentrasi dan sensitifitas. Waktu melihat antrian pembayaran di toko swalayan, dapat menjadi suatu ide. Waktu melihat estalase toko pakaian mungkin timbul satu ide lainnya. Membaca cover majalah di hipermarket dapat menjadi ide. Mendengar pengumuman panggilan di mal, dapat menjadi ide yang lain. Dan seterusnya. Ide ada dimana-mana. Jangan membatasi ide.

Pengembangan
Pengembangan ide dapat memakai jurus 6W 1H. Tentu itu bukan rumus kimia, melainkan 6W 1H singkatan dari What, Who, Why, Where, When, Which dan How. Dan tulis sebanyak mungkin jawaban dari pertanyaan jurus tersebut.
Jurus pengembangan lainnya adalah memakai cara peng-andaian. Misalnya jika saya menjadi jawara Indonesian Idol, apa yang akan saya lakukan, bagaimana dengan hadiah yang saya peroleh, bagaimana dengan ce saya dan sebagainya. Tuliskan semua kejadian impian Anda tersebut. Semua itu toh akan menjadi tulisan Anda. Jadi Anda enggak usah perlu malu, membatasi atau ingin menjadi sempurna. Tulis dulu dech pokoknya.

Pengembangan berikutnya dapat dilakukan latihan membuat cerita pendek. Ambil satu kejadian, peristiwa yang menarik Anda. Bisa dari surat kabar tentang perceraian artis. Dari majalah. Dari televisi opera sabun colek. Dari internet. Buat latihan ini seperti Anda membuat cerpen untuk dikirim ke majalah kesayangan Anda. Beri dialok dua arah. Penggambaran yang lebih detil. Lambat menulis engga kenapa asal komitmen terus menulis. Buat cerpen dengan 1000 kata.

Latihan ini selain dapat membangun percaya diri Anda juga membiasakan menulis. Komitmen tanpa latihan tidak akan berjalan. Dengan latihan komitmen akan terwujud. Salah satu cara menarik, menulis blog pribadi. Murah meriah bermanfaat.

Maju Terus

Wow, engga kerasa 33 hari telah kita lewati di taon 2008 ini. Maunya lebih sering menulis untuk AEIOU tetapi nyatanya masih dalam tahap mimpi, tapi engga kenapa tetap maju terus, tetap mimpi terus. Tekatnya sih tiap bulan ada tulisan yang lebih sering untuk ditayangkan. Bulan Januari 2008 baru menelorkan dua tulisan di blog ini.

Tentu berita yang cukup menarik dari pengelola, David, founder dari AEIOU memantapkan tekadnya untuk maju terus dalam AEIOU web site. Tetapi untuk hard copynya, dengan cucuran air mata yang bercampur dengan cucuran keringat dan bersatu dengan cucuran air hujan maka dengan tega mengakhiri hidup AEIOU edisi cetaknya.

Tentu keuntungan situs blog AEIOU lebih banyak kayaknya daripada kekurangannya. Selain so pasti gratis, mendunia, bisa diakses dimana saja, dan bisa diupdate kapan saja. Promosinya juga cukup mudah bisa lewat email (atau secara verbal) dengan menunjukkan alamatnya, si pembaca yang berminat hanya tinggal klik saja.

Tentu dalam hal ini hasil teknologi blog merupakan suatu anugerah Tuhan untuk dapat mengajak para pengunjung menikmati dan mendorong mengembangkan talenta menulisnya. Tentu kita mengharapkan banyak support dari para pembaca untuk maju bersama kita mengembangkan situs ini (karena hasilnya kan untuk para pembaca juga).

Monday, January 28, 2008

Tantangan Mengelola Media yang Berkualitas & Menarik

[JAKARTA] Kristen terpanggil untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah, di mana berbagai masalah muncul satu per satu, melalui pelayanan multidimensi dan multibidang. Kristen juga ditantang untuk mengelola media yang berkualitas dan menarik. Injil sebagai Kabar Gembira jangan sampai dibatasi hanya sebagai kabar sukacita tentang surga, tetapi juga dunia; bukan hanya rohani, tapi juga jasmani.

Hal ini dikatakan Dr Victor Silaen, pengamat politik dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Jakarta dalam acara diskusi panel yang bertema "Reporting Religion as News", yang diselenggarakan INKommunity, komunitas wartawan Kristen, Jumat (21/9) di Jakarta.


Selain Victor, tampil Kristanto Hartadi, Pemimpin Redaksi Sinar Harapan dengan tema "Mengembangkan Berita Agama di Media Mainstream", Adiputra, konsultan radio, "Tantangan dalam Mengelola Radio Kristen", serta Don Bosco Salamun, anggota Komisi Penyiaran Indonesia dengan tema "Tren Program Bernuansa Agama di Televisi".


Dengan tema "Mengembangkan Jurnalisme di Media Ministri", Victor Silaen menjelaskan pelayanan kristiani bukan hanya berorientasi keterbebasan dari dosa, tetapi juga keterbebasan dari pelbagai belenggu dan tekanan yang membuat hidup ini terasa begitu susah dan sengsara, semisal kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan yang sejenisnya.


Jadi, pelayanan kristiani haruslah dikembangkan seluas-luasnya agar mampu menjawab pelbagai tantangan kehidupan dalam bentuk kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah yang makin komplek itu.


Selain itu, kata Pemimpin Redaksi Tabloid Dwi Mingguan Reformata itu, penting pula dipikirkan upaya-upaya strategis agar terjadi koordinasi dan kooperasi yang baik di antara sesama kelompok atau lembaga pelayanan kristiani.


Tujuannya, agar semua visi pelayanan itu dapat diwujudkan secara lebih efektif dan efisien. Di dalam hal inilah terasa betapa penting dan perlunya media informasi-komunikasi - baik cetak, elektronik, maupun audio-visual.


Victor Silaen menegaskan pentingnya media. Dengan adanya media, kita selaku komunikator (pihak penyampai pesan) dapat memperoleh beberapa keuntungan, antara lain:

1) informasi-informasi yang akan disampaikan dapat direncanakan atau dipersiapkan agar lebih baik dan menarik;

2) informasi-informasi yang disampaikan dapat menjangkau masyarakat luas;

3) informasi-informasi yang sudah disampaikan tak lekas berlalu begitu saja karena dapat disimpan dalam bentuk cetakan (buletin, jurnal, majalah, tabloid, dan yang sejenisnya), atau rekaman (kaset, video, dan yang sejenisnya), atau terpampang lama di komputer (internet);

4) kita juga dimungkinkan untuk memperoleh umpan-balik (respons) dari komunikan dalam bentuk informasi baru yang memerkaya, masukan, usulan, kritik, dan lainnya.


Dengan beberapa keuntungan itu saja, tambahnya, menjadi jelaslah bahwa sesungguhnya media informasi-komunikasi bukan hanya dapat berfungsi sebagai sarana penghubung, tetapi juga pendukung. Terlebih di zaman serba-modern yang membuat waktu menjadi terasa kian berharga ini.


Mengapa harus repot-repot, misalnya, untuk berbicara di sana-sini atau pergi ke sana-sini untuk menyampaikan informasi jika ada media yang dapat membantu atau bahkan menggantikan upaya manusia untuk tujuan itu? Sekaitan itu, maka Kristen ditantang untuk mampu mengelola sekaligus mengembangkan media massa yang baik, berkualitas, dan menarik. (Suara Pembaruan, 22/9/07)

Pelayanan Literatur: Mau di Bawa Kemana? (versi 2.0)

Kalau Anda pernah melihat pertandingan atletik estafet 4 x 100 meter misalnya, disana Anda melihat empat pelari akan beradu cepat sambil memberikan atau menyambungkan tongkat estafet dari pelari pertama ke pelari kedua sampai kepada pelari yang keempat. Gambaran itu yang pengen saya gambarkan bahwa tongkat kepemimpinan pelayanan itu juga demikian.

Sewaktu saya sebagai salah satu redaksi buletin dari gereja saya selama dua tahun, maka pemimpin redaksi buletin tersebut berbicara kepada saya untuk melanjutkan tongkat kepemimpinan buletin tersebut. Pertama tentu saya cukup terkejut karena tidak pernah melintas dalam pikiran saya untuk memimpin pelayanan buletin tersebut. Tetapi pada waktu itu saya juga cukup tersudut dan mau tidak mau saya harus menerima tongkat kepemimpinan tersebut.

Learning by doing. Itu yang saya lakukan. Sewaktu saya diangkat menjadi pemimpin redaksi buletin tersebut mantan pemimpin buletin masih aktif melayani dalam keredaksian untuk melatih dan membimbing saya. Puji Tuhan, dengan susah payah saya dapat melakukan pelayanan tersebut. Meskipun ketika saya pikir kembali pada waktu itu, sebenarnya prosedur tersebut kurang baik. Andaikata jika dan misalnya saya tidak mampu melakukan kepemimpinan itu tentu pelayanan tersebut akan kacau dan pada ujung-ujungnya pelayanan dan penerbitan buletin tersebut akan terhenti.

Dari pengalaman tersebut saya tidak ingin tongkat kepemimpinan berikutnya akan terjadi seperti itu lagi. Maka pada waktu saya merekrut anggota redaksi, saya juga mulai melihat pribadi tiap pribadi, siapa yang kira-kira mampu menjalankan tugas kepemimpinan tersebut. Pelayanan saya telah berjalan dua tahun maka seharusnya saya sudah memberikan tongkat estafet tersebut kepada pelari yang lainnya. Tetapi dari pertimbangan hamba Tuhan dan Majelis serta teman yang saya yakini akan dapat melanjutkan pelayanan tersebut masih belum siap. Maka tongkat estafet itu masih harus saya genggam setahun lagi. Setelah itu saya mempromosikan si A, sebut saja teman saya tersebut, menjadi pemimpin redaksi. Saya juga masih harus mendampingi dia kira-kira selama 2 tahun. Lalu saya melepaskan pelayanan itu untuk melakukan pelayanan di komisi lain. Saya hanya membantu secara freelance.

Tetapi apa yang terjadi? Jika dihitung-hitung teman saya A, seharusnya dia sudah dapat memimpin pelayanan tersebut apalagi selama 3 tahun dia sudah saya coba untuk memimpin pelayanan tersebut (meski saya ada di sampingnya). Dia tidak dapat melanjutkan pelayanan tersebut. Dengan seribu satu alasan yang masuk akal, menjadikan pelayanan itu macet. Saya mengevaluasi, apakah saya salah untuk membimbingnya atau mengajarnya? Apakah dia tidak mempunyai talenta untuk memimpin? Saya kira tidak. Maka itu saya dapat mengatakan bahwa mencari sumber daya manusianya dalam pelayanan literatur itu tidak mudah. Saya kira Tuhan sudah memberikan kesempatan, jalan untuk pelayanan itu terbuka lebar. Dari hamba Tuhan, Majelis, sampai jemaat mendukung pelayanan tersebut, dan soal dana juga tidak masalah.

Kejadian ini terulang kembali dalam pelayanan saya di Vancouver (setelah berselang 4 tahun). Kali ini bukan dalam bidang pelayanan buletin tetapi sudah beralih ke dunia maya, internet. Pelayanan situs gereja. Tetapi pada dasarnya pelayanannya juga hampir sama. Menyajikan tulisan-tulisan karya asli dari para anggota redaksi. Kembali saya ditunjuk sebagai pemimpin redaksi dari hamba Tuhan dan Majelis; dan cerita tongkat estafet kepemimpinan tersebut mirip sekali dengan cerita di atas yang saya alami waktu pelayanan di Surabaya. Pelayanan itu pun terhenti pada waktu beralih kepada pemimpin yang berikutnya.

Apakah isi buletin itu penting? Tentu saja. Kalau isinya asal-asalan, tidak menarik, tata letaknya kurang atraktif, maka impresi pembaca juga tentu akan jatuh. Maka perlu dibuat suatu standar gol yang hendak dituju. Di satu gereja, masalah isi buletin yang timbul adalah ketika hamba Tuhan yang menjadi penasehat pelayanan tersebut mengatakan bahwa isi harus berbobot, berkualitas. Saya sangat setuju. Tetapi masalahnya siapa saja pengisi dari buletin tersebut. Jika pengisi atau penulis buletin tersebut dari komisi remaja, pemuda, jemaat awam, mampukah mereka menulis tentang tulisan kekristenan yang berkualitas?

Boro-boro mau menulis tulisan yang berbobot, mau menulis saja sudah senang banget, iya enggak? Apalagi para penulis tersebut belum pernah mengikuti tentang kursus menulis keq, atau kursus Alkitab keq; jadi mana mungkin mau menulis tulisan yang bebobot tentang kekristenan? Usulan nyeleneh pun muncul, bagaimana kalau isinya semua hamba Tuhan yang menulis? Kalau hamba Tuhan pun punya waktu senggang sih mungkin bisa. Tapi jadwal pelayanan saja sudah membuat para hamba Tuhan itu pontang-panting. Bagaimana masih mau menulis lagi?

Selain isi yang berbobot tentu saja seberapa jauh isi itu dapat menarik pembaca ingin membacanya. Dunia sudah begitu bertaburan dengan tabloid yang berisikan berita-berita isapan jempol dan yang terkini. Bagaimana dengan media kristiani? Apakah juga hendak bersaing menyajikan berita-berita populer? Jika ada niatan itu sampai kapan pun tidak bakal mampu menyaingi majalah tabloid yang paling jelek sekalipun.

Dahulu saya pernah mendengar bahwa buletin gereja seharusnya untuk jemaat gereja (pada khususnya) tetapi tidak menutup untuk jemaat lain yang tertarik untuk membacanya atau orang Kristen pada umumnya. Maka buletin gereja adalah untuk penunjang pemberitaan Firman Tuhan dari mimbar. Buletin gereja harus disesuaikan dengan jadwal dan tema kotbah. Karena buletin gereja bukanlah tabloid gereja dari sebuah gereja.

Hal itu akan berlainan jika penerbit buletin Kristen berdiri secara independen. Mereka dapat mencakup berita-berita kekristenan yang aktual di seluruh dunia atau di negara tertentu. Berita-berita kekristenan yang menyangkut dengan misi, pengabaran injil, peliputan kebaktian kebangunan rohani dan masih banyak lainnya. Di Amrik sini buletin atau surat kabar semacam ini telah berjalan dengan baik dan sejak lama mereka menerbitkan. Mereka mampu membayar penulis profesional, penata letak profesional dan menerima iklan. Meski demikian mereka mendistribusikan secara gratis di tempat-tempat tertentu.

Penerbitan buletin, majalah atau surat kabar Kristen di Amrik, meski gratis, tidak semudah seperti di tanah air. Harus mempunyai ijin, tentu yang bersangkutan dengan lembaga, yayasan, institusi atau gereja; yang bersangkutan pula dengan pihak perijinan literatur pemerintah. Masalah yang tidak kalah penting adalah dana. Percetakan untuk buletin, majalah atau suratkabar Kristen disini tidak semurah di Indo. Biaya percetakan ini dapat mencapai ribuan dolar dalam skala gereja kecil untuk mencetak buletin gereja lokal saja. Maka penerbitan atau pelayanan ini harus direncanakan matang-matang. Karena selain uang yang digunakan harus dipertanggungjawbakan juga harus digunakan secara efisien supaya tidak terjadi penghamburan.

Maka tidak sedikit gereja yang memprioritaskan pelayanan literatur paling bawah sendiri. Karena sering kali pelayan gereja tidak mengerti pelayanan Tuhan yang sebenarnya. Seringkali pelayanan gerejawi yang dilakukan mirip seperti bisnis. Pelayanan yang dilakukan harus mempunyai dampak atau keuntungannya untuk gereja. Pelayan gereja tersebut salah alamat seharusnya mereka membuat bisnis sendiri bukan melayani Tuhan.

Dan yang paling dasar banyak pelayan gereja tidak mengerti apa pelayanan literatur yang sebenarnya. Padahal pelayanan literatur adalah salah satu cara menjangkau jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus. Tujuan ini yang seringkali dilupakan oleh banyak orang Kristen. Mereka menggangap pelayanan literatur sebagai salah satu bentuk pelayanan pelengkap, menyalurkan hobi para pemuda remaja dalam gereja, mengenalkan nama gereja (kalau yang ini daripada susah-susah mending buat kartu nama saja) dan mungkin masih banyak motivasi lainnya.

Pertanyaannya sekarang, seberapa penting pelayanan literatur itu bagi gereja lokal anda, sedangkan di gereja banyak jemaat yang mempunyai talenta menulis misalnya. Pemimpin gereja harusnya tanggap akan hal ini. Mungkin dapat membuat pelatihan kepenulisan, membuat rencana penerbitan dan distribusi, menjadikan pelayanan literatur bukan hanya sebagai pelayanan pelengkap. Tapi adakah orang-orang yang peduli akan hal ini? Sedangkan semakin hari media dunia semakin melahap, menggeser, menghimpit perlahan-lahan suara Kebenaran dalam gereja.