Tuesday, July 17, 2007

Ibu Harry Potter

Joanne Kathleen Rowling atau lebih dikenal sebagai J.K. Rowling dilahirkan pada 31 Juli 1965 di Chipping Sodbury, dekat Bristol, Inggris. Sebagai seorang ibu tunggal yang tinggal di Edinburgh, Skotlandia, Rowling menjadi sorotan kesusasteraan internasional pada tahun 1999 saat tiga seri pertama novel remaja Harry Potter mengambil alih tiga tempat teratas dalam daftar New York Times best-seller setelah memperoleh kemenangan yang sama di Britania Raya. Rezeki Rowling semakin bertambah saat seri ke-4, Harry Potter dan Piala Api diterbitkan pada bulan Juli tahun 2000. Seri ini menjadi buku paling laris penjualannya dalam sejarah.

Perintis Harry Potter

Sebagai seorang lulusan Universitas Exeter 1987 dalam bidang bahasa Perancis dan Literatur Klasik, Rowling berpindah ke Portugal pada tahun 1990 untuk mengajar Bahasa Inggris. Di sana dia berjumpa dan menikah dengan seorang wartawan Portugis. Anak perempuan mereka,, Jessica dilahirkan pada tahun 1993. Selepas perkawinannya berakhir dengan perceraian, Rowling berpindah ke Edinburgh bersama-sama dengan anaknya tinggal berdekatan dengan rumah adik perempuan Rowling, Di. Rowling menghadapi masalah keuangan untuk menghidupi diri dan anaknya. Semasa hidup dalam kesusahan itu, Rowling mulai menulis sebuah buku. Dikatakan Rowling mendapat ide tentang penulisan buku itu sewaktu dalam perjalanan naik kereta api dari Manchester ke London pada tahun 1990. Setelah beberapa kali ditolak, Rowling berhasil menjual buku itu, Harry Potter dan Batu Bertuah untuk jumlah sebanyak $4000.


Menjelang musim panas pada tahun 2000, tiga buku pertama Harry Potter: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, dan Harry Potter dan Tawanan Azkaban telah menangguk keuntungan lebih kurang 480 juta dolar AS dalam masa tiga tahun dengan cetakan 35 juta naskah dalam 35 bahasa. Pada Juli 2000, Harry Potter dan Piala Api telah dicetak buat pertama kalinya sebanyak 5,3 juta naskah dengan pesanan tambahan sebanyak 1,8 juta naskah. Rowling, yang kini salah seorang wanita terkaya di Britania, merancang untuk mengarang tujuh buah buku bagi seri tersebut yang setiap satunya meriwayatkan tentang setiap tahun Harry Potter yaitu seorang bocah penyihir dan temannya berada di Sekolah Sihir Hogwarts. Buku kelimanya, Harry Potter dan Orde Phoenix, telah mulai dipasarkan pada 12 tengah malam 21 Juni 2003, serentak di seluruh dunia selepas lebih kurang 3 tahun buku keempat diterbitkan.


Buku keenam Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran juga telah diluncurkan secara resminya serentak seluruh pada 12.01 malam 16 Juli 2005. Untuk melancarkan buku itu, ia mengadakan keramaian istimewa di Edinburgh Castle. Ia melibatkan diri dalam beberapa salam jumpa dan meluangkan waktu dengan para pembaca anak-anak yang meminati bukunya. Sejauh ini, peluncuran buku keenamnya di seluruh dunia lebih mendapat perhatian dari peluncuran buku Harry Potter yang lain.

Keluarga

Penghujung Desember 2001, Rowling menikah dengan Dr. Neil Murray di rumah mereka di Skotlandia. Anak kedua dan anak lelaki pertama mereka, David Gordon Rowling Murray, dilahirkan pada 24 Maret 2003, di Royal Infirmary, Edinburgh. Untuk menjaga anaknya itu, Rowling mengatakan yang dia akan jarang muncul di depan orang banyak dan menandatangani buku kelima yang pada saat itu baru dilancarkan. Tak berapa lama selepas mengumumkan yang buku keenam seri Harry Potter telah sempurna dikarang, Rowling melahirkan anak perempuan pada 23 Januari 2005 dan dinamai Mackenzie Jean Rowling Murray.


Kini, J.K. Rowling telah menyelesaikan buku ketujuh dan yang terakhir dari seri tersebut. Ia mengatakan ia tidak akan menyambung lagi seri itu dan ia ingin mencoba mengarang suatu genre yang baru. Buku ketujuh Harry Potter and the Deathly Hallows akan diterbitkan pada 21 Juli 2007.

Thursday, July 12, 2007

Akibat Menulis

Oleh: Jennifer Matlack

Setelah menderita sindrom menstruasi lebih dari sepuluh tahun, Debra Van Wert, 44, dari Rochester, New York, mulai menulis gejalanya dalam buku catatan pribadinya. Tiga bulan kemudian, dia melihat sebuah pola, “Menulis menolong saya mengantispasi fase hormon dan mengidentifikasi minggu yang terbaik atau yang terburuk.” Kata Van Wert, dan dia dapat mengendalikan kondisinya.


Dan idenya adalah benar. Menurut pakar kedokteran yang menemukan bahwa menulis jurnal (buku) harian dapat mengurangi rasa sakit, menguruskan tubuh yang tambun, bahkan mengurangi stres. “Menulis dapat membuat kekebalan tubuh dan hormon untuk melawan stres, dan membuat hubungan dengan sesama menjadi lebih baik, serta mengatasi stres.” Demikian kata Joshua M. Smyth, seorang psikolog dari Universitas Syracuse. Dia menemukan bahwa menulis membuat kondisi menjadi lebih baik bagi beberapa pasien yang menderita rematik dan melancarkan pernafasan bagi penderita asma. Riset yang lain telah menemukan beberapa kegunaan dari menulis:


Menurunkan berat tubuh. Menuliskan secara detil makanan yang akan dimakan seseorang setiap hari (dalam jurnal makanan) menunjukkan menolong penurunan berat tubuh. Para periset dengan Women's Health Initiative menemukan bahwa jurnal makanan menciptakan mawas diri tentang konsumsi kalori dan banyaknya lemak. Dan ketika Anda tahu berapa banyak yang Anda makan, hal itu lebih mudah merubah kebiasaan makan Anda.


Tidur lebih nyenyak. Di Univeristas Temple, para wanita yang menulis tentang pengalamannya seperti diperkosa atau kecelakaan mobil yang serius akan mengalami lebih sedikit sakit kepala, masalah tidur dan gejala depres daripada wanita yang tidak pernah menulis.


Lebih sedikit penyakit. Pada tahun 2002 di Universitas Ben-Gurion, Israel, orang yang menulis tentang stres lebih sedikit mengunjungi klinik kesehatan dalam 15 bulan.


Mengurangi stres. Riset di Chicago Medical School, ketika para penderita kanker yang kurang dikunjungi oleh keluarga mereka, menulis tentang penderitaan mereka selama 20 menit sehari, laporan menunjukkan bahwa mereka mengalami stres yang lebih sedikit dalam enam bulan.

Thursday, July 5, 2007

My Name Is Mr. X

Siapa yang tidak kenal sosok ini? Banyak! He.. he… tapi pasti banyak yang lebih kenal dia daripada kenal kita yang rata-rata ini, tul nggak?! Lha wong beliau ini mantan Pemred majalah bulanan nasional: BAHANA, penulis buku, gembalai ribuan jemaat, seminar sana khotbah sini, diundang ke situ diajak ke sono. Tapi nampaknya yang paling penting bagi Xavier (X) ini adalah ia dikenal oleh Tuhan, ya tho?!

X yang berpasangan dengan F (Fransiska X Susana) ini, memunyai keturunan Y (Yosafat) dan beberapa anak angkat seperti: S (She Khang di Perth), M (Melinda di Melbourne) dan E (Elizabeth di Surabaya).


Lucunya, X yang tenar ini malah berkata: “Saya belum menyumbangkan apa-apa yang berarti. Saya bahkan belum bisa mencapai standar yang Watchman Nee (dalam NORMAL CHRISTIAN). Untuk menjadi orang Kristen normal saja kita harus berjuang keras karena harus melakukan seluruh perintah Allah. Yang tidak, berarti tidak normal. Jadi, bagi saya, yang penting saya lakukan apa yang Tuhan percayakan kepada saya. His Way dan His Time, bukan My Way dan My Time.”


Tapi X punya obsesi ini, “menulis 100 buku dengan judul 100 di depannya. Tetapi itu masih jauh, karena baru ada 7 buku saya dengan judul 100 di depannya. Karena terobsesi dengan angka 100 ini seorang wartawan koran di Jakarta menyebut saya dalam tulisannya, “Mr. 100 Kisah”, sedangkan seorang kepala editor penerbitan buku menyebut saya “King of Stories” ada-ada saja. Bagi saya sebutan itu jauh panggang dari api. Namun, untuk joke bolehlah sekaligus untuk cambuk bagi saya. Menanggapi guyonan seperti itu, biasanya saya balas, “Saya mau menulis buku 1000 kisah yang menguras kantong Anda. He, he, he, karena kalau 1000 kisah kan tebal dan harganya pasti mahal.”


Sementara itu, ia masih ingin menulis buku berjudul: “GOD’S MASTERPIECE: YOU! Karena itu saya meminta salah satu sobat kental saya Wawan untuk menulis buku itu atau nulis bareng saya. Bagi saya siapa pun yang menulis buku itu sama saja. Yang penting terwujud. Saya ingin setiap anak Tuhan tidak pernah minder karena kita adalah bangsa yang terpilih, imamat rajani, … tolong lanjutkan yang lebih lengkap.”


Pengagum temannya sendiri (Andreas Harefa, Paulus Winarto dan Benny Santoso) ini, menyeru: “Kita terbiasa dengan budaya lisan, sehingga budaya tulis itu masih Utopia Land. Itulah sebabnya saya senang ‘memprovokasi’ orang untuk menulis, apalagi hamba-hamba Tuhan. Jangan hanya jadi jago mimbar tetapi melempem di dunia tulis-menulis. Gereja harus sering-sering membuat pelatihan tulis-menulis. Bulan lalu gabungan 4 kampus mengundang saya untuk menyampaikan 1 sesi seminar bagaimana menulis buku. Geli, untuk menulis buku diperlukan lebih dari itu. Tetapi it’s oke. It is a good start! Ketika menjadi Pemred BAHANA, saya adakan pelatihan jurnalistik terus-menerus selama 3 tahun. Kini tidak ada lagi. Mungkin visi atau kesibukannya sudah lain.”


Tapi tentang saat-saat menulis, X menjerit “Sangat bergairah. Bahkan ketika dikejar deadline dan hormon Adrenalin saya meningkat pesat, saya bisa menulis seperti kereta Shinkanzen di Jepang dan TGV di Perancis. Di Sydney, pk. 1 dini hari, saya lupa ada deadline untuk kolom mingguan saya di sebuah tabloid. Saat diingatkan, saya langsung menuju meja komputer dan menulis serta mengirimkannya saat itu juga. Peristiwa kedua. Saya asyik belanja di Wal-Mart, dan saya di-sms kalau tulisan saya belum masuk. Saya segera menuju perpustakaan sebuah kampus, mencari hotspot dan mengirimkan tulisan dari sana.”


Wahai pembaca AEIOU, inilah pesan beliau yang harus kalian camkan! “Jika Anda sudah hobi membaca, Anda tinggal satu langkah lagi untuk hobi menulis. Belajarlah menulis dengan menulis! Kiranya damai sejahtera Tuhan Yesus Kristus yang melebihi akal itu akan memampukan Anda menjadi penulis!” (&) David Andreas

Menyunting Dan Menulis Ulang

Oleh: Dewitt H. Scott


Penulis yang baik harus selalu dan selalu menyunting tulisannya serta memperhatikan alur dan ritme tulisan mereka. Dan mereka juga harus mengetahui apa makna dari tiap kata yang mereka pakai.


Anda menyunting tulisan dengan tujuan untuk menyingkat, mempertajam, menyederhanakan dan menjelaskan, untuk meningkatkan urutan dan logika pikiran, dan untuk menguji semuanya dari sudut pandang seorang pembaca. Saat Anda mengedit, tanyakan pada diri sendiri pertanyaan berikut: Sudahkah saya…


- memakai kata kerja dalam kalimat aktif?


- menempatkan subyek saya di dekat kata kerja?


- memilih kata-kata yang benar-benar menerjemahkan maksud saya dengan tepat?


- menghindari kalimat yang panjang dan sulit dipahami?


- menghapus kata-kata yang tak perlu, terutama kalimat bercabang?


- menghindari perpindahan nada kalimat yang menyentak -- dari gaya percakapan ke khotbah, dari santai ke formal?


Satu trik untuk penyuntingan adalah dengan memikirkan kembali apa yang telah Anda tulis sehingga keesokan harinya Anda dapat 'merevisinya' dengan pikiran yang segar. Apa yang Anda banggakan hari ini mungkin akan memalukan Anda keesokan harinya. Samuel Johnson memahami trik tersebut. "Baca kembali tulisanmu," katanya, "dan ketika mendapati satu bagian yang menurutmu bagus, kembangkan bagian itu!"


Penulis Kurt Vonnegut juga mengatakan hal serupa: Miliki keberanian untuk menghapus. "Kefasihan bicara Anda harus dapat menjadi pelayan pikiran di kepala Anda," katanya. "Anda dapat memiliki patokan: Jika sebuah kalimat, tak peduli seberapa bagusnya, ternyata tak dapat menerangkan subyek Anda dengan cara yang baru dan bermanfaat, hapus saja!"


Saat Anda merasa bahwa Anda telah selesai melakukan proses penyuntingan, periksa kembali file tulisan itu ke mesin pengecek tata bahasa sekali lagi, meski Anda mungkin sudah pernah melakukannya. Jangan langsung mengabaikan semua anjuran yang muncul. Tetap perhatikan peringatan seperti "kalimat pasif" atau "kalimat panjang" sebagai kesempatan untuk melakukan penyuntingan secara kasar. Apakah ada alternatif cara lain untuk menuliskan topik Anda? Saat menyunting tulisan, ujilah semuanya dari sudut pandang pembaca, pastikan tak ada yang terlewat, periksa keakuratannya dan cobalah untuk mempersingkat, mempertajam, mengembangkan dan menyederhanakan tulisan tersebut.


Tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:


- Apakah susunannya sudah teratur? Apakah pembaca dapat mengetahui mana awal, pertengahan dan akhir tulisan saya? Apakah saya telah memberikan pembaca sebuah alur yang jelas dan mudah dimengerti?


- Apakah semua sudah terdengar logis?


- Apakah sudah jelas? Apakah tulisan saya sudah tidak lagi terlalu abstrak atau lebih membumi?


- Bagaimana nada kalimat saya? Dalam membuat percakapan, apakah saya terlalu 'cerewet' atau terlalu 'basa-basi'? terlalu resmi? kasar? terlalu lembut?


- Apakah usaha saya untuk menyisipkan humor berhasil? Jika Anda sendiri masih ragu, lupakan saja! Humor yang gagal akan menghasilkan kegagalan.


Demikianlah. Kerja keras Anda telah selesai. Namun masih ada satu langkah lagi. Perlihatkan tulisan Anda pada beberapa orang yang Anda hormati dan lihat seperti apa Anda kelihatannya. Selanjutnya tulis kembali.

Wednesday, June 13, 2007

Mengupayakan Majalah Gereja, Kenapa Tidak?

Oleh: Kristina Dwi Lestari & Raka Sukma Kurnia


Di zaman media cetak dan elektronik seperti televisi, radio, internet yang dengan cepat menghadirkan berita aktual setiap harinya, majalah (gereja) terbitan berkala ternyata tetap mampu bertahan. Majalah ternyata memunyai kekuatan tersendiri dalam menjaga eksistensinya. Ia bisa lebih berfokus pada pembacanya, misal majalah keluarga, wanita, pecinta buku, hobi, lingkungan hidup, sampai rohani. Sisi inilah yang ditawarkan.


Fenomena munculnya majalah gereja menunjukkan adanya sinyalemen positif. Sedikit banyak keberadaannya memberikan pengaruh besar kepada perkembangan sebuah gereja. Selain untuk tingkatkan keimanan, setiap jemaat juga dapat saling kenal, kuatkan iman, khibur, bahkan saling nasihati. Kita dapat membayangkan kehidupan gereja itu semakin hidup dengan hadirnya media tersebut. Juga jangan membatasi lingkup, banyak majalah dari beberapa gereja besar yang berkembang di luar gerejanya.


So, diperlukan kerja keras dari berbagai pihak. Jangan hanya menjadi majalah yang musiman, sebentar tampak, setelah itu tidak terdengar lagi gaungnya. Maka dari itu diperlukan riset sederhana. Tujuannya adalah mengetahui keinginan dan kebutuhan pembaca. Petakan karakteristik (calon) pembaca, rumuskan data demografis (umur, jenis kelamin, pendidikan, status ekonomi, pekerjaan,), dan psikografi (gaya hidup, selera, orientasi kerohanian).


Gempuran media luar akan selalu gencar, namun dengan perencanaan yang serius & matang baik dari pengurus gereja, pendeta, majelis, atau aktivis gereja, bukan tidak mungkin majalah gereja dapat digemari dan menjadi berkat tersendiri.


SIAPA YANG KERJA?


Tentukan siapa saja yang akan mengelolanya, mulai dari pengamat masalah, organisator, akuntan, penulis, sampai ke pemasar. Tentu saja para pegawai administrasi harus terlibat, tapi mereka biasanya sibuk. Karena itu buka peluang bagi pemberdayaan jemaat. Para pemuda gereja, sebagai warga gereja yang berjiwa dinamis, dapat menjadi kekuatan penggerak. Gaet juga elemen lain, baik dari pelayanan anak, remaja, kaum ibu dan bapak.


SIAPA YANG KONTRIBUSI?

Ada banyak pihak yang sebenarnya bisa berperan sebagai penulis. Majelis, pendeta, pengurus, guru-guru sekolah minggu, dan para pemuda pada prinsipnya berpotensi sebagai penulis. Pengalaman dan pengetahuan selama melayani tentunya menjadi bekal tersendiri untuk ditulis dan dibagikan. Pula warga jemaat pun dapat diajak untuk berpartisipasi.

Kemudian, ada baiknya diadakan pelatihan menulis. Selain memperkenalkan dunia penulisan kepada warga gereja, pelatihan seperti ini bukan tidak mungkin akan menghadirkan generasi penulis Kristen.


SIAPA YANG BIAYAI?

Bagi gereja yang mapan finansial, hal ini tentu tidak berarti. Namun, bagaimana dengan gereja yang kecil? Ada dua cara ideal. Pertama, Majalah tidak perlu dicetak secara eksklusif. Dengan fotokopi pun masih bisa. Kedua, kita bisa tawarkan promosi usaha kepada para pengusaha di gereja. Lalu jajaki para pengusaha lainnya.

Wednesday, June 6, 2007

Ensklopedia Kepala Putik: Florence Nibart Devouard

Nibart-Devouard saat bertemu dengan Jimmy Wales, (TEMPO hal 49)

Seorang ibu rumahtangga dari sebuah desa di Prancis memimpin situs ensiklopedia Wikipedia. Dia mengendalikan rekan-rekannya di seluruh dunia sembari mengurus taman bunga.


Malam belum lagi larut di Malintrat, Clermont Ferrand, sebuah kota provinsi di wilayah Prancis Tengah. Florence Nibart-Devouard dengan sabar tengah menunggui anak-anaknya tidur. Begitu mereka pulas, Flo bergegas membuka laptop. Inilah saatnya ibu tiga anak itu bekeja, memimpin rekan-ekannya di seluruh dunia secara maya.


Oktober 2006, Flo terpilih jadi pucuk pimpinan Yayasan Wikimedia, badan nirlaba yang bermarkas di Florida, Amerika Serikat. Dia mengelola situs ensiklopedia www.wikipedia.org. Peran itu dia jalani dari rumahnya di Malintrat sembari menghirup kopi dan memandang taman bunga.


Di komunitas maya, Flo, 38, populer dengan sebutan Anthere, yang artinya kepala putik bunga dalam bahasa Prabis. Dalam kehidupan pribadinya, bunga menempati ruang penting. Dia biasa mengurus kebun bunga. Flo adalah sarjana pertanian.


Si Kepala Putik mulai mengisi lembaran wikipedia dengan mengedit artikel berbahasa Inggris bertema modifikasi genetis organisme pada Februari 2002. Tema-tema tulisannya mulai berkembang ke dalam masalah ekologi, lingkungan, fillsafat, politik, hingga perang Irak. Dalam seminggu dia bisa menulis lebih dari 100 artikel dalam bahasa Inggris dan Prancis. Sampai-sampai ada yang berkomentar, Flo telah masuk kategori wikipediholik alias gila kerja.


Wikipedia membebaskan semua orang menulis. Setiap orang bisa menulis dan mengedit tulisannya sendiri atau orang lain di sini. Lembaga ini didirikan pada 15 Januari 2001 oleh Jimmy Wales dan beberapa sukarelawan. Wikipedia pun menjadi ensiklopedia maya terbesar di dunia. Jumlah artikelnya tiga kali lipat dari Britanica Online. Situs ini telah menyimpan enam juta artikel dalam 250 bahasa dan dikunjungi 100 juta orang tiap bulan. Meski bebas, situs ini punya sistem khusus untuk menapis data yang asal-asalan. Setiap perubahan tercatat di 25 server. Para administrator mengawasi seluruh perubahan di server. Pertemuan sesama pengurus Wikipedia dilakukan 6 atau 8 minggu sekali di Amerika atau negara Eropa yang ditunjuk.


Flo keluar dari perusahaan tempat ia bekerja, dan mengabdi di ruang maya. “Jauh lebih menyenangkan ketimbang menghabiskan 12 jam di kantor,” ujarnya. Kini lembaga nirlaba Wikipedia ini memiliki total aset bersih sebesar US$ 1.066.785 dari donatur sukarela. Flo ingin Wikipedia tetap berjalan sebagai ensiklopedia gratis dan terpercaya. Dia kini mendapat julukan baru: Madame Wikipedia dan akan menjabat hingga Juli 2008 nanti. Tapi “jabatan” yang paling dicintainya adalah menjadi ibu. “Punya anak dan bisa memerhatikan perkembangan mereka adalah hal yang jauh lebih menyenangkan,” katanya. [Yandi MR, TEMPO – Feb 2007].

Anak Rimba Pun Bisa Menulis Buku

Irma Tambunan, KOMPAS 3 Mei 2007

“Aku ingin semua teman rimba bisa baca tulis dan hitung, supaya tidak ada lagi yang menipu mereka,” ujar Jujur, 17, salah seorang anak rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas.


Jujur adalah salah satu dari 5 anak rimba yang menuliskan 10 kisah anak rimba atau Suku Anak Dalam yang dibukukan Komunitas Konservasi Indonesia Warsi. Buku berjudul Kisah-kisah Anak Rimba setebal 80 hal, lengkap dengan gambar-gambar berwarna. Awalnya, anak-anak itu hanya ingin belajar membaca dan menulis agar komunitas mereka tidak lagi diremehkan sebagai orang terbelakang, bodoh, tidak beradab, kudisan oleh orang luar rimba. Meski fasilitas di hutan sangat minim, mereka tekun belajar.


Bahkan Jujur juga sudah terlatih untuk menjadi guru bagi anak-anak rimba. “Saya yakin, kalau anak rimba mau belajar, kami akan lebih dihormati. Saya berharap selalu ada anak rimba yang menjadi guru di hutan kami.”


Kini, Jujur dan teman-temannya patut berbangga, sekalipun tidak mengenyam pendidikan formal, mereka tetap dapat mencapai kemampuan baca, tulis, dan hitung yang setaraf. Bahkan telah menghasilkan buku cerita. “Saking semangatnya, aku menulis dua cerita sekaligus hanya dalam semalam. Suatu saat nanti, aku akan punya buku yang berisikan hasil karya saya sendiri,” katanya. Jujur menulis tentang “Hantu Benor” dan “Manusia jadi Gajah”. Ejam, temannya menulis tentang “Biawak Jadi Menantu Raja”.



Jujur dan 226 orang lainnya secara bertahap telah mendapatkan pendidikan alternatif gagasan KKI. Mereka tidak belajar di dalam kelas, tetapi di atas kayu-kayu kecil, beratap terpal tanpa dinding, di bawah pohon rindang di dalam hutan. Mereka juga tidak mengenakan seragam sekolah. Ada sebagian yang masih mengenakan cawat (anak laki) atau kain kemben (anak perempuan).


Waktu belajarnya pun disesuaikan dengan kemauan dan ketersediaan waktu mereka. Ketika pagi hari mereka membantu orangtuanya mengumpulkan makanan. Sekolah baru akan dimulai setelahnya. Saat belajar, mereka juga tidak swelalu duduk manis. Kadang lesehan atau bahkan sambil tiduran. Hasrat yang kuat membuat mereka betah belajar sampai malam meski hanya ditemani cahaya lilin.